Image

FOTO: Dok. Pitu Sinema

Peluncuran Film Masih Curiga

Merayakan Sinema di Lingkungan Sekolah

Isi redaksi berita di sini..

“I live, therefore I make films. I make film, therefore I live. Life. Movement. I make home movies, therefore I live. I live, therefore I make home movies.” - Jonas Mekas

Pernahkah anda membayangkan remaja-remaja Korea Selatan, Amerika, atau negara-negara di Eropa merayakan kecintaannya pada budaya Pop dari Indonesia?

Atau pernahkah anda membayangkan cerita rakyat dari Sulawesi Barat dikonsumsi di layanan streaming di berbagai belahan dunia?

Mungkin hal itu kedengaran sangat ambisius, muluk-muluk dan sulit untuk tercapai, tapi tidak ada yang tidak mungkin.

Hal serupa bisa kita saksikan dengan fenomena budaya Populer Korea yang menginvasi hampir seluruh lini kehidupan kita saat ini, dari anak-anak, remaja, hingga yang tua, semuanya menikmati budaya korea yang dikonsumsi melalui berbagai produk budaya seperti musik hingga film.

Kemungkinan itu, rasa-rasanya sangat bisa terwujud jika kita memiliki kesadaran mengorkestrasi segala potensi budaya yang kita miliki, dikemas dalam berbagai produk kebudayaan hari ini melalui potensi terkecil yang kita punya dan dibarengi sistem pendidikan yang terintegrasi dengan berbagai persoalan saat ini. 

Pitu Sinema, sebagai salah satu komunitas yang bergerak di bidang industri kreatif di Mamuju, Sulawesi Barat, telah memulai pergerakan ini selama hampir satu dekade. Cita-citanya, tentu tidak muluk-muluk atau setinggi pada paragraf pembuka tulisan ini.

Tapi kesadaran untuk memulai budaya sinema di daerah, bisa kita lihat sebagai satu langkah besar. Sebab, bukanlah hal mudah memulai pergerakan di daerah yang hampir tidak memiliki budaya sinema atau kesadaran budaya kontemporer, tapi disisi lain bisa saja menjadi keuntungan dalam hal eksplorasi bentuk, estetika, hingga ekosistemnya. 

Melalui praktik film, seperti produksi, eksibisi, pemutaran film, dan lokakarya yang konsisten digalakkan, secara perlahan Pitu Sinema bisa menumbuhkan budaya sinema di Mamuju dan sekitarnya. Setelah tahun lalu berhasil melahirkan kegiatan Pemutaran dan Workshop Film di sejumlah titik di Sulawesi Barat dengan lokasi beragam seperti di tempat wisata, kedai kopi, sekolah hingga pondok pesantren, tahun ini Pitu Sinema melanjutkan progres pertumbuhan budaya sinema di sekolah-sekolah, salah satunya SMA Negeri 1 Kalukku.

Bekerjasama dengan pihak sekolah, melalui ekstrakurikuler Sanggar Seni Maloga, Pitu Sinema meluaskan pengetahuan serta pengalaman produksi film dan berhasil menelurkan satu karya film pendek berjudul Masih Curiga yang disutradarai oleh M. Adrian Adyrangga secara resmi diluncurkan pada 30 September 2023 lalu. Film berdurasi 15 menit ini mengangkat cerita keseharian yang sering didapati di lingkungan sekolah dan disuguhkan dengan nuansa sinema yang cerah dan ringan.

Masih Curiga berhasil mendapatkan sambutan meriah, walaupun dalam sudut pandang lain dan segala macam yang berbau teknis pun gagasan, tentu menyisakan beberapa celah kritik. Tapi rasanya hal itu dapat dikesampingkan sejenak sebagai ruang untuk merayakan sekaligus memperkenalkan medium film serta budaya sinema yang dapat dinikmati semua kalangan. 

Mari menanamkan kepercayaan bahwa pertumbuhan gagasan yang tajam, serta penguasaan teknis bisa tumbuh dari perasaan gembira dan tentu rasa curiga akan potensi medium yang telah digeluti terus menerus. Dalam sudut pandang itu, celah harapan peminat dunia kreatif seperti film, tumbuh dalam pribadi siswa-siswi yang terlibat dan kedepannya bukan tidak mungkin akan memasifkan pertumbuhan budaya sinema di daerah dan meramaikan diskursus perkembangan perfilman di Indonesia hingga mancanegara. 

Sebab itu pula, tulisan ini tidak akan saya panjangkan dengan penjelasan terkait cerita dan seluruh detail filmnya. Kalaupun ada sedikit ruang refleksi dari pribadi saya yang turut hadir dan menyaksikan kemeriahan peluncuran film tersebut, yaitu selain praktik produksi film, kesadaran akan pentingnya budaya menonton dan diskusi sangatlah penting untuk dilakukan secara berkala, sebagai stimulan dan penunjang gizi lahirnya sebuah gagasan pengkaryaan. Hal ini juga bisa menjadi penunjang pertumbuhan kepekaan sebagai senjata utama lahirnya sebuah karya.

Dan tulisan ini akan kembali saya tutup dengan pertanyaan, yang mungkin bisa menjadi pemicu diskusi gagasan selanjutnya. Apakah anda pernah membayangkan bagaimana film yang diproduksi siswa sekolah bisa menunjang kegiatan pembelajaran di sekolah?

Bagaimana mata pelajaran yang sering dianggap “momok menakutkan”, misalnya Matematika, Fisika, Ekonomi, dikemas secara riang gembira dalam sebuah film dan disandingkan dengan penceritaan lain seperti romansa sekolah mungkin, atau kisah lainnya? (tentu tidak harus terjebak dalam metode video pembelajaran),

Atau bisakah kita mengeksplorasi keindahan visual berbagai organisme yang ada di atas kaca preparat saat praktek Biologi ke dalam bahasa Sinematografi?T

abik. (#)

Image

Comments

BERITA TERKAIT