Jurnalis Nurhadi dan Kadis KOminfoss Sulbar, Muh. Ridwan.
Pemprov Sulbar Harap Pemdes Turut Mengintervensi Masalah Blankspot Jaringan
MARAYA.NEWS,- Dinas Komunikasi, Informatika, Persandian, dan Statistik (Diskominfoss) Sulawesi Barat mendorong pemerintah desa untuk menghadirkan jaringan wifi gratis, meski di tengah keterbatasan anggaran daerah.
Kepala Dinas Kominfoss Sulbar, Muhammad Ridwan Djafar menjelaskan bahwa program penuntasan blankspot dirancang agar adaptif dengan kondisi keuangan daerah. Jika dulu program internet gratis ini menggunakan stimulus bantuan, kini sasarannya diperluas ke tempat-tempat pelayanan publik yang vital. Mulai dari fasilitas sekolah, pusat kesehatan, hingga pemasangan jaringan langsung di area kantor desa.
Intervensi Pemprov Sulbar diwujudkan melalui pengadaan perangkat satelit, peralatan penunjang, hingga pembiayaan langganan bulanan di tahap awal. Namun, karena kondisi anggaran daerah yang sedang mengalami efisiensi, Pemprov Sulbar harus berbagi peran dengan pemerintah desa (pemdes) setempat agar program ini tetap berkelanjutan.
Pemprov kata dia, membiayai langganan di tahap awal. Selanjutnya diteruskan menjadi tanggung jawab Pemdes. "Ini perlu menjadi pertimbangan desa, karena ini berdampak langsung terhadap berbagai sektor khususnya pelaku usaha, atau UMKM,” imbuh Ridwan, pada Kamis.
Selain keterbatasan biaya intervensi tahun ini, tantangan lain adalah masalah kondisi geografis yang sulit. Pemprov Sulbar sebenarnya telah menjalin kerja sama dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Komdigi. Sayangnya, proses pembangunan infrastruktur seringkali terhambat oleh kendala pembebasan lahan untuk menara provider.
Olehnya, Pemprov Sulbar sangat mengharapkan adanya dukungan dari pemerintah pusat untuk mempercepat pembangunan infrastruktur provider di wilayah-wilayah sulit.
Sebagai solusi taktis dan cepat, jalur wifi desa akhirnya dirancang melalui kerja sama dengan Provider Service Provider (PSP) lokal. Jalur ini nantinya diintegrasikan melalui skema kerja sama dengan Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Lewat keterlibatan Bumdes ini, desa-desa yang selama ini kesulitan sinyal diharapkan bisa segera menikmati akses internet demi mendongkrak kesejahteraan warga setempat.
Pihaknya juga menunggu perkembangan program “internet rakyat” yang dinilai lebih efisien dan terjangkau. Teknologi ini menggunakan sinyal radio dari menara pemancar kecil ke antena penerima di rumah pelanggan tanpa kabel, lalu diteruskan ke modem atau router agar bisa digunakan di semua perangkat.
“Model seperti ini diharapkan dapat menjadi solusi mobile internet bagi wilayah blankspot dengan medan geografis yang sulit dan jumlah pengguna yang tidak terlalu banyak,” pungkasnya. (min)

Comments