Anjungan Pantai Manakarra
Ekonomi Biru dan Hijau
Menenun Mamuju Dari Jejak Hijau Di Tanah Manakarra dan Riak Biru di Selat Makassar
Oleh : Fitri Hardiyanti Puajappia
MAMUJU bukan sekadar titik di peta Sulawesi Barat. Mamuju adalah hamparan garis pantai sepanjang ratusan kilometer yang beradu mesra dengan deretan perbukitan hijau yang menjulang. Sejak dahulu, leluhur masyarakat Mamuju telah mempraktikkan apa yang saat ini kita sebut sebagai "Ekonomi Hijau" dan "Ekonomi Biru".
Di masa lalu, ketergantungan masyarakat pada alam bersifat simbiotik. Hutan-hutan di pedalaman Kalukku dan Tapalang memberikan hasil bumi seperti kakao dan kelapa tanpa perlu merusak struktur tanah secara masif.
Di pesisir, perahu-perahu tradisional meluncur membelah Selat Makassar, membawa pulang cakalang dan tuna dengan teknik pancing yang sangat selektif. Alam terjaga karena manusia merasa menjadi bagian darinya.
Seiring statusnya sebagai ibu kota provinsi, Mamuju mengalami akselerasi pembangunan yang luar biasa. Namun, kemajuan ini membawa tantangan baru. Ekspansi lahan perkebunan seringkali berisiko memicu deforestasi jika tidak diawasi, menyebabkan banjir saat musim penghujan tiba, sebuah pengingat keras bahwa "hijau" kita sedang terancam.
Di sektor laut, degradasi terumbu karang dan tumpukan sampah plastik di pesisir menjadi potret buram ekonomi biru. Nelayan kecil kini harus melaut lebih jauh karena ekosistem pesisir mulai jenuh oleh polusi. Kita berada di titik di mana pertumbuhan ekonomi harus dibayar mahal oleh penurunan kualitas lingkungan.
Untuk memajukan Mamuju, kita tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri. Diperlukan sebuah gerakan sinkron antara kebijakan pemerintah dan kesadaran masyarakat.
- Peran Pemerintah Harus Menjadi Arsitek Kebijakan Hijau. Pemerintah Kabupaten Mamuju harus beralih dari sekadar regulator menjadi fasilitator inovasi.
• Hilirisasi yang Beretika, jangan lagi hanya mengekspor biji kakao mentah atau ikan segar, tetapi memangun industri pengolahan lokal yang hemat energi agar nilai tambah ekonomi tetap berada di Mamuju, namun dengan limbah yang terkelola.
• Sertifikasi Produk Kehutanan & Kelautan, mendorong produk Mamuju untuk memiliki sertifikasi yang berkelanjutan, seperti MSC untuk ikan agar bisa menembus pasar internasional dengan harga lebih yang lebih tinggi.
• Infrastruktur Biru Membangun Cold Storage bertenaga surya di sentra-sentra nelayan untuk menekan kerugian pasca panen tanpa menambah beban emisi karbon.
- Sedangkan Peran Masyarakat Harus Menjadi Penjaga Garda Depan, Masyarakat bukan sekadar objek pembangunan, tetapi menjadi aktor utama.
• Transformasi Kelompok Tani dan Nelayan agar Masyarakat mulai membentuk koperasi kuat untuk memotong rantai tengkulak, sehingga keuntungan ekonomi hijau benar-benar mengalir ke kantong mereka.
• Literasi "Zero Waste" yaitu Pengelolaan sampah domestik harus tuntas di tingkat desa. Kesadaran untuk tidak membuang sampah ke sungai adalah investasi terbesar untuk kesehatan laut (ekonomi biru) di Mamuju.
• Membentuk Ekowisata Berbasis Desa, Daripada menjual lahan untuk pembangunan masif, warga bisa mengelola hutan desa atau kawasan mangrove sebagai destinasi wisata edukasi yang menghasilkan uang sekaligus menjaga alam.
Memajukan Mamuju bukan berarti menutup mata untuk melihat modernitas, tetapi memastikan bahwa modernitas tidak menghancurkan fondasi kehidupan kita, tanah yang subur dan laut yang kaya.
Jika pemerintah berani berinvestasi pada teknologi ramah lingkungan dan masyarakat konsisten menjaga adat lokal yang menghargai alam, maka "Manakarra" akan tetap menjadi pusaka yang berharga untuk generasi mendatang. (**)

Comments