Bupati Mateng, H. Arsal Aras serahkan SK pegawai.
Dahulukan Kepentingan PPPK, Bupati Mateng: Ini Soal Kemanusiaan
MARAYA.NEWS,- Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng) merealisasikan komitmen menjamin keberlanjutan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Pemkab Mateng memilih menunda pembangunan fisik demi kemanusiaan.
Hal tersebut harus dilakukan karena keterbatasan fiskal. "Kami rela menunda pembangunan demi PPPK. Ini bukan soal angka semata, ini soal kemanusiaan,” tegas Bupati Mateng, H. Arsal Aras dalam penyampaiannya, dikutip awak media, pada Kamis (06/08/2026).
Bupati menegaskan bahwa pemerintahannya mengalokasikan anggaran untuk memastikan gaji P3K dibayarkan hingga Desember 2026, meskipun harus menanggung beban besar. “Kalau gaji PPPK saja enam bulan tertunda, dan kita punya dana 50 miliar, saya sendiri pun merasa sakit memikirkannya. Angkanya tidak main-main, dan ini persoalan kemanusiaan yang harus kita selesaikan,” paparnya.
Saat ini belanja pegawai di daerah sudah menyentuh 42 persen, jauh melampaui batas minimal 30 persen sesuai Undang-Undang 1 Tahun 2022. Jika aturan ini diterapkan ketat mulai 2027, beban keuangan daerah akan semakin berat, bahkan bagi ASN sekalipun.
Pemerintah daerah pun telah mengajukan surat ke pemerintah pusat untuk mencari solusi bersama, karena kondisi ini dirasakan hampir seluruh daerah di Indonesia. Apalagi 931 tenaga PPPK telah diperpanjang kontraknya tahun ini. 316 tenaga lainnya mendapat perpanjangan 2 tahun ke depan. Tahap kedua masih menyasar sekitar 99 orang. Perangkat desa yang telah mengabdi hingga usia pensiun 60 tahun pun mendapat perpanjangan masa bakti 2 tahun.
Bupati berharap, dengan jaminan keberlanjutan kerja, para pegawai dapat meningkatkan integritas dan kinerja. “Kami beri ruang, kami beri perhatian maka kami pun berharap kinerja yang terbaik untuk masyarakat,” terang Arsal Aras.
Bupati juga menyampaikan kabar gembira penerbitan Nomor Induk Perangkat Desa telah membuka akses perbankan dan kredit bagi perangkat desa bahkan ada yang memanfaatkannya untuk modal menikah. “Mereka bilang, ‘Kami bisa nikah, bisa punya rumah.’ Itu kebahagiaan yang tidak ternilai,” ungkapnya. (min)

Comments