Ketua TP PKK Sulbar meninjau pelayanan kesehatan anak.
20.023 Balita Sulbar Terdeteksi Stunting, Terbanyak di Majene
MARAYA.NEWS,- Kabupaten Majene menjadi daerah dengan temuan terbanyak kasus Stunting pada Balita. Tergambar dalam data prevalensi stunting per Juli 2026 yang bersumber dari Aplikasi Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM).
Prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Barat tercatat sebesar 27,25 persen. Dari 73.470 balita yang telah diukur, sebanyak 20.023 balita di Sulbar tercatat masuk kategori stunting atau kekurangan gizi yang dapat berdampak pada pertumbuhan anak.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim mengatakan, capaian tersebut menjadi gambaran penting dalam mengevaluasi dan memperkuat penanganan stunting. Pengukuran dan pencatatan pertumbuhan balita harus terus diperkuat agar setiap anak yang mengalami masalah pertumbuhan dapat segera mendapatkan intervensi sesuai kebutuhannya.
"Data ini menjadi dasar bagi kita untuk melihat kondisi riil di lapangan sekaligus menentukan langkah intervensi yang lebih tepat sasaran. Penanganan stunting membutuhkan kerja bersama dan tidak dapat dilakukan oleh sektor kesehatan saja,” papar Nursyamsi Rahim, pada Rabu 26 Agustus.
Secara umum, cakupan pengukuran balita di Sulawesi Barat telah mencapai 69,08 persen dari total sasaran 106.355 balita. Kabupaten Majene menjadi daerah dengan prevalensi tertinggi, yakni 32,02 persen, disusul Mamasa 29,77 persen, Mamuju 29,49 persen, Polewali Mandar 27,35 persen, Pasangkayu 22,90 persen, dan Mamuju Tengah menjadi daerah dengan prevalensi terendah, yakni 18,84 persen. Cakupan pengukuran tertinggi tercatat di Pasangkayu sebesar 76,68 persen.
Capaian tersebut merupakan bagian dari upaya Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat untuk menurunkan prevalensi stunting yang sebelumnya berada pada angka 35,4 persen berdasarkan hasil SSGI terakhir pada tahun 2024. Karena itu, penguatan intervensi spesifik dan sensitif, pemantauan pertumbuhan balita, peningkatan kualitas gizi, penguatan peran Posyandu serta keterlibatan keluarga dan lintas sektor menjadi bagian penting dalam percepatan penurunan stunting.
“Kita ingin setiap kabupaten bergerak berdasarkan data, sehingga intervensi yang dilakukan benar-benar menyasar anak dan keluarga yang membutuhkan,” tegasnya. (min)

Comments