Image

Prosesi Pebalunan yang dipimpin Demmalluru sang Tomebalun.

Tomebalun, Membungkus Perjalanan Terakhir

DEMMALURU memasukkan benang terakhir. Ia terus menjahit hingga kain merah menutupi seluruh lapisan kain di dalamnya. Kain-kain ini membungkus Jenazah Indok Tasik Karaeng. Sudah tiga hari Demmaluru bersama beberapa anak muda melakukannya. Pembungkusan jenazah. Orang Mamasa, Provinsi Sulawesi Barat menyebutnya Pebalunan. Rangkaian ini sangat rumit, butuh dua sampai tiga hari.

Oleh: Abdi Latief

Dari luar rumah, suara padaling (gong) bersahut-sahutan, bunyinnya teratur, dua anak memainkannya dengan ceria. Terdengar pula bunyi gendang dengan irama tertentu. Gendang dengan ukuran berbeda dipukul bergantian.

Jenazah telah disimpan satu tahun sembilan bulan di atas rumah di dalam kayu mate. Sebuah peti kayu. Bentuknya bulat. Tiga hari lalu, jenazah dikeluarkan untuk menjalani proses Pembalunan.

Demmaluru sendiri menggeluti prosesi ini lebih dari separuh usianya. "Saya sudah 65 tahun, umur 30 tahun mulai kerja seperti ini," ungkap Demmalluru yang memimpin Pembalunan. Ia disebut Tomebalun.

Tomebalun melakukan Pembalunan yang dimulai dengan bungkusan biasa kemudian memasukkan beberapa pakaian jenazah. "Pertama itu kain-kain kecil, celana, baju, sarung tenun, selimut. Setelah itu ada namanya dibantala, itu diikat dengan ikatan tertentu, jadinya kuat,” sambil menyeka keringat dari wajahnya, Demmalluru menjelaskan tahapan demi tahap dengan pelan.

Kain-kain tersebut diikat dengan sangat erat. Setelah dibantala, dibungkus lagi dengan menggunakan kain atau sarung yang besar sampai ikatan bantalanya tidak terlihat lagi, barulah kain merah dipakai. "Pakai kain putih, pertamanya itu bantala ada namanya lakka, bentuknya bundar. Baru dipasang namanya salibeang, diikat salibeang, maka jadilah bantala. Untuk mengikat kuat,” imbuh dia sembari menyemburkan asap tebal dari mulutnya.

Tahapannya rumit. Pebalunan tak dapat dilakukan sembarang orang. Hanya figur tertentu dengan keterampilan dan mendapat mandat untuk menjalankannya. Skil ini tidak sekadar dipelajari melalui pengamatan, juga diwariskan dalam lingkungan keluarga. "Ada orang tua yang memberikan mandat bahwa kamu yang kerja seperti ini, karena ini tidak sembarang kerja,” tuturnya.

Demmalluru

Kain merah sudah menutupi ratusan kain yang membalut jenazah. Bagi orang Mamasa, kain merah digunakan pada upacara duka selain warna hitam tentunya. Kain pembalut jenazah adalah simbol tingkatan pada upacara rambu solo atau upacara kedukaan.

Selama 35 tahun menjadi Tomebalun, Demmalluru telah membungkus jenazah di berbagai wilayah. Ia bahkan tak lagi mampu menghitung berapa banyak jenazah yang pernah ia tangani. "Banyak orang yang kerja juga ini, tapi tidak terbatas wilayahnya. Saya pernah di Mallangkena Padang, pernah di Orobua, Sesena Padang, pernah di Rante Buntu Lekong, dan di wilayah Tawalian ini. Paling jauh di Batu Maktombon Kecamatan Sespa,” katanya sembari mencoba mengingat kembali tempat-tempat yang pernah ia datangi.

Pengalaman dan kedekatan dengan keluarga menjadi hal penting yang membuat seseorang dipercaya untuk membungkus jenazah. Kepercayaan itu tidak datang begitu saja. Ada hubungan kekeluargaan dan proses pewarisan keterampilan yang menyertainya.

Saat dipercayakan untuk membungkus jenazah, Demmalluru akan membawa beberapa anak muda dari kalangan keluarganya untuk ikut membantu. Ini juga ia lakukan agar prosesi ini terus berlanjut ke genarasi berikutnya. Salah satunya, Demianus. Sudah 13 tahun ia melakoninya. "Dari umur 25 tahun, ambek (bapak) ini om saya. Pertama ikut itu diajak, dengan sendirinya bisa.  Awalnya diajak, setiap ada ambek saya ikut juga,” cerita Demianus, pria yang berprofesi sebagai petani.

“Sudah banyak juga yang saya ikuti, sudah tahu prosesnya, cuma itu yang dikatakan ambek (bapak: Demmalluru) tidak sembarang, harus ambek yang mulai dulu, kita ini membantu," sambung Demianus.

Pebalunan diturunkan secara turun temurun dari beberapa genarasi. Jika dari garis keturunan tidak pernah ada yang mebalun, maka secara otomatis ia tidak bisa melakukanya. Beberapa prosesi pada upacara Rambu Solo, diturunkan pada garis keturunan, semisal orang yang memukul gendang, orang yang mengukir jenazah, dan juga orang yang membungkus jenazah.

Demmalluru sang Tomebalun mengawali langkahnya sejak mengikuti ajakan omnya. Ia terus melakukannya ketika ada keluarga yang membutuhkan. “Memang ada orang tua kami yang kerja seperti ini, kebetulan itu orang tua sudah tua, sudah tidak kuat kerja waktu itu. Katanya, saya sudah tua, kamu yang lanjutkan ini, dan memang dari turunan, karena ini tidak sembarang. Nanti ada orang tua yang kerja baru bisa kerja, diajarkan kepada keluarga," urai Demmalluru.

Ia melanjutkan tradisi ini dan membawa anak muda untuk ikut membantu. Karena prosesi ini butuh tenaga yang maksimal saat proses pengikatan, maka anak muda dibutuhkan untuk melakukannya. Sementara itu, ia memimpin setiap tahapan pebalunan. "Kalau saya keluar, semua anak-anak keluarga saya bawa. Istilahnya, kalau orang mati itu ada tingkatannya, bungkusnnya seperti ini, harus mencukupi syarat jumlah kerbau. Kalau syaratnya tidak bisa, ya kita bungkus juga tapi tidak dengan kain merah," terang Demmalluru.

Setelah dibungkus dengan kain merah, tahapan selanjutnya adalah ditempeli ukiran dengan menggunakan motif tertentu pada bungkusan, warna motifnya adalah warna emas.

Tingkatan acara Rambu Solo atau upacara kedukaan di Mamasa ditandai dengan berapa jumlah gendang di depan rumah selama prosesi. Dimulai dari satu gendang. Tingkatan tertinggi adalah 5 gendang. Namun beberapa wilayah seperti di Kecamatan Sumarorong, Kecamatan Nosu, dan Kecamatan Pana di Kabupaten Mamasa, jumlah maksimal untuk tingkatan tertinggi adalah 2 gendang.

Puncak Rambu Solo adalah pebabaran biasa juga disebut mebabak, semua kerbau dipotong pada tahapan ini. Jumlah kerbau sesuai tingkatannya. Semakin banyak maka semakin tinggi juga tingkatan acaranya. Jumlah kerbau juga ditentukan dengan jenis kerbau yang dipotong.

Kerbau-kerbau yang dipotong selanjutnya akan dibagikan kepada semua rumpun keluarga yang terkait dengan jenazah yang meninggal dari yang paling dekat sampai yang paling jauh. Tata cara pembagian juga telah diatur sedemikian rupa, tentu jumlahnya tidak sama untuk setiap orang atau keluarga. Semua yang terlibat dalam acara juga akan mendapat bagian yang telah ditentukan.

Orang yang melakukan prosesi bungkus jenazah juga akan mendapat bagian pada saat pembagian daging, biasanya mereka akan mendapat bagian kaki belakang atau yang disebut pupuh. Selain itu, tomebalun juga akan mendapat potongan sepak bai (kaki babi).

Puncak Rambu Solo biasanya berlangsung sepekan, dari jenazah mulai dikeluarkan dari peti kayu, dibungkus hingga diantar ke tempat peristirahatan terakhir. (***)

Image

Comments

BERITA TERKAIT