Bupati Mamuju Sitti Sutinah Suhardi.
Pemkab Mamuju Akui Masih Perlu Penguatan Penanganan Stunting
MARAYA.NEWS,- Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Taki Asuh Stunting) yang diluncurkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju sejak Maret 2025 masih menghadapi tantangan besar. Lebih setahun berjalan, prevalensi stunting di Mamuju justru tercatat 30,05 persen.
Angka tersebut terungkap dalam monitoring percepatan penurunan stunting yang digelar Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Mamuju di Aula Lantai III Kantor Bupati Mamuju, Sabtu, 8 Agustus.
Wakil Bupati Mamuju sekaligus Ketua TPPS, Yuki Permana, menyebut berdasarkan progres entri pengukuran Agustus 2026, dari 22.652 sasaran yang terdata, baru 12.757 atau 56,32 persen yang telah ditimbang. Dari jumlah balita yang telah ditimbang tersebut, sebanyak 3.833 tercatat mengalami stunting dengan prevalensi 30,05 persen.
Yuki meminta seluruh sektor yang tergabung dalam TPPS mengoptimalkan peran masing-masing. Menurutnya, penanganan stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi harus terhubung dengan pemberdayaan, pendidikan dan sektor lainnya.
Bupati Mamuju, Sitti Sutinah Suhardi, mengakui kondisi tersebut menjadi pekerjaan bersama. Ia bahkan meminta seluruh pihak mengevaluasi pelaksanaan program yang selama ini telah berjalan. "Saya berharap dengan berbagai upaya lewat Taki Asuh Stunting itu, angka stunting bisa menurun. Malah ini meningkat, kita harus mencari tahu apa yang salah," ucapnya.
Menurut Sutinah, pemberian bantuan makanan saja tidak cukup untuk menangani stunting. Orang tua asuh harus mengetahui perkembangan anak yang menjadi sasaran pendampingan, termasuk kondisi berat dan panjang badan serta persoalan kesehatan yang dialami. Para orang tua asuh diminta kembali aktif turun ke lapangan setiap bulan.
Pendampingan juga harus dilakukan bersama keluarga, kader, pemerintah desa, puskesmas dan pihak terkait lainnya. "Jangan sampai kita hanya memberikan bantuan, tetapi tidak mengetahui perkembangan anak tersebut,” imbuh bupati.
Sejauh ini Pemkab Mamuju baru mampu mengintervensi sekitar 1.000 anak melalui lingkup pemerintah kabupaten. Sementara masih banyak anak yang belum mendapatkan intervensi. "Kalau semua stakeholder ikut, Insyaallah kita bisa menekan stunting," imbuh Sutinah.
Selain mengaktifkan kembali Taki Asuh Stunting, Pemkab Mamuju akan memperkuat program Grebek Stunting. Program tersebut diarahkan untuk mendorong orang tua membawa anak ke posyandu setiap bulan sehingga pertumbuhan anak dapat dipantau dan intervensi bisa dilakukan lebih cepat.
Sutinah mengatakan, dirinya juga memiliki anak asuh melalui program tersebut. Sejumlah anak yang sebelumnya didampingi disebut telah keluar dari status stunting dan kemudian digantikan dengan sasaran baru. "Alhamdulillah ada beberapa yang keluar. Sekarang 15 ada yang baru lagi,” ungkapnya.
Sutinah menegaskan seluruh pihak tidak boleh hanya mengandalkan laporan. Kepala OPD, kepala desa, kepala sekolah, kepala puskesmas hingga unsur pemberdayaan diminta mengetahui secara langsung kondisi anak yang menjadi sasaran intervensi. (min)

Comments