Image

Salah satu tokoh kunci pembentukan Sulbar, Prof Basri Hasanuddin.

Prof Basri: Pemimpin Itu Harus Berahlak

MARAYA.NEWS,- Salah satu figur pencetus pembentukan Provinsi Sulawesi Barat, Profesor Basri Hasanuddin hadir menyampaikan sambutan malam ramah tamah Peringatan Hari Jadi Provinsi Sulbar, pada Selasa 22 September.

Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) itu menganalogikan Sulbar ibarat pesawat tempur yang membutuhkan kapten andal untuk lepas landas. "Saya titipkan Sulbar ini kepada Pak Gubernur untuk menerbangkan pesawat F-16 Sulbar ini mengangkasa," imbuh dia.

Basri mengingatkan para pejabat publik dan aparat keamanan agar senantiasa mengayomi serta mengerti karakter dasar masyarakat Sulawesi Barat. Mengutip sejarah Raja Mandar pertama, Todilaling, ia menegaskan bahwa pendekatan emosional dan ketulusan adalah kunci utama dalam memimpin daerah tersebut.

“Hati masyarakat Sulbar itu sebenarnya mulia dan gampang. Kalau kita berhasil menyentuh hatinya, mereka akan taat dan mendukung kita. Namun, kalau gagal dan mengabaikannya, mereka akan protes dan tidak keberatan terhadap apa pun,” ujar Basri merujuk pada rekam jejak kepemimpinan para pejabat di tanah Mandar.

Mantan Duta Besar Indonesia untuk Iran ini juga mengutip petuah yang sempat disampaikan Menteri Agama terkait kriteria ideal seorang pemimpin. Menurutnya, kecerdasan intelektual saja tidak cukup tanpa diimbangi oleh moralitas. "Pemimpin itu harus cerdas dan berhati mulia atau berakhlak. Apa gunanya cerdas kalau karakternya tidak bagus?," tegasnya.

Prof Basri juga sempat mengenang proses memisahkan Sulawesi Barat dari provinsi induknya, Sulawesi Selatan, pada akhir dekade 1990-an hingga awal 2000-an. Menurutnya, pemisahan daerah saat itu kerap dianggap sebagai hal yang mustahil. Butuh kombinasi antara soft diplomacy (diplomasi lunak) dan hard diplomacy (diplomasi keras).

Soft diplomacy diwujudkan melalui penyusunan naskah akademis yang matang agar pembentukan Sulbar tidak dipandang sebelah mata. Sementara hard diplomacy digerakkan melalui aksi demonstrasi dan tekanan politik dari mahasiswa serta masyarakat. "Banyak pejuang yang terlibat dalam gerakan kolosal ini. Saya hanya bagian kecil dari perjuangan itu dalam kapasitas saya saat itu," beber Prof Basri Hasanuddin. (min)