Image

Ilustrasi kekerangan melanda areal persawahan dan mengancam panen.

Pemerintah Atasi Kekerangan Sawah dengan Pompanisasi dan Penguatan Irigasi

MARAYA.NEWS,- Penanganan kekeringan yang melanda areal persawahan harus segera diatasi. Salah satu solusi dari pemerintah pusat adalah dengan memaksimalkan mekanisme pompanisasi.

Catatan Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pada September 2026 ini, penanganan kekeringan telah menyasar 3.288 lokasi secara nasional, termasuk 358 lokasi di area persawahan. Penanganan di sektor pertanian tersebut mencakup sekitar 141.440 hektare sawah. 

Menurut Menteri PU, Dody Hanggodo, pompanisasi dan penguatan jaringan irigasi menjadi solusi untuk mengalirkan air ke persawahan yang masih terdampak kekeringan di tengah El Nino yang panjang. 

Usai mendatangi empat titik persawahan di daerah Jawa Barat, pada Sabtu lalu, Dody menjelaskan hasil peninjauan menunjukkan persoalan tidak selalu disebabkan ketiadaan sumber air, tetapi juga belum tersalurkannya air dari sumber yang tersedia menuju lahan pertanian. "Sumber airnya ada, sungai, dan sungai itu enggak kering juga," ujarnya, dikutip Antara.

Menurut Dody, pada kondisi tersebut air sungai dapat dipompa dan dialirkan menuju saluran irigasi sekunder maupun tersier agar dapat menjangkau sawah. Pompa bertenaga listrik dapat menjadi pilihan karena jaringan listrik tersedia di sekitar lokasi. Penggunaan listrik juga dinilai Dody dapat mengurangi beban petani dibandingkan pompa berbahan bakar solar.

Air hasil pemompaan selanjutnya dapat disalurkan melalui pipa menuju saluran sekunder yang telah tersedia. Sementara itu, jaringan tersier yang mengalirkan air lebih dekat ke lahan pertanian masih perlu dibangun.

Ditambahkan bahwa pembangunan saluran tersier sederhana dapat dilakukan dengan melibatkan petani. "Ajak petani itu bikin bersama-sama. Murah itu, enggak mahal," imbuh Menteri PU.

Sebagai contoh, dengan skema pompanisasi dan jaringan tersebut, ia memperkirakan hampir 400 hektare sawah di kawasan yang ditinjaunya di Kedongdong dapat memperoleh aliran air.

Untuk penanganan jangka lebih panjang, Dody menyebut pembangunan sumur bor maupun embung juga dapat dipertimbangkan pada kawasan yang terus mengalami kesulitan mengalirkan air dari sumber yang lebih rendah. Namun, ia mengatakan pilihan penanganan permanen masih harus dikaji lebih lanjut sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah. (min)